MOTIVASI, PENGAJARAN,
DAN PEMBELAJARAN
Motivasi ialah proses
memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku.
Perspektif Motivasi:
1. BEHAVIORAL
Menekankan
imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid.
Insentif ialah stimulus positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku
murid.
2. HUMANISTIS
Menekan
pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih
nasib mereka. Perspektif ini berkaitan dengan “hierarki kebutuhan” oleh Abraham
Maslow, dimana terdapat: Fisiologis ( rasa lapar, haus, tidur); Keamanan (bertahan
hidup); Cinta dan rasa memiliki (kasih sayang dan perhatian dari orang lain); Harga
diri; Aktualisasi diri (realisasi potensi diri).
3. KOGNITIF
Pemikiran
murid akan memandu motivasi mereka. Perspektif ini juga menekankan arti penting
dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan
(Schunk & Ertmer,2000; Zimmerman & Schunk,2001). Motivasi kompetensi
adalah orang termotivasi menghadapi lingkungan secara efektif, menguasai dunia,
dan memproses informasi secara efisien.
4. SOSIAL
Kebutuhan
afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain
secara aman dan membutuhkan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihan hubungan
personal yang akrab. Murid sekolah yang punya hubungan yang suportif memiliki
sikap akademik yang positif pula dan senang bersekolah (Baker,1999).
MOTIVASI
UNTUK MERAIH SESUATU
a.
Motivasi Intrinsik
Melakukan
sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain yang dipengaruhi oleh insentif
eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras
menghadapi ujian untuk mendapat nilai yang baik.
Ada
2 jenis motivasi intrinsik:
·
Determinasi diri dan pilihan
personal
Murid percaya bahwa mereka melakukan
sesuatu karena kesuksesan atau imbalan eksternal
·
Pengalaman optimal
Berupa perasaan senang dan bahagia yang
besar. Csikszentmihalyi menemukan bahwa pengalaman optimal itu terjadi ketika orang
merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas.
Adapun:
Flow : murid ditantang dan menanggapi
diri punya keahlian tinggi
Kejemuan : keahlian murid tinggi tapi
aktivitas yang dihadapi tidak menantang
Apati : level tantangan dan keahlian
rendah
Kecemasan : tugas sulit dan tidak bisa
menanganinya
b.
Motivasi Ekstrinsik
Melakukan
sesuatu demi sesuatu itu sendiri. Misalnya, murid mungkin belajar mengahdapi
ujian karena dia senang dengan mata pelajaran itu.
Imbalan
Ekstrinsik dan Intrinsik
Imbalan eksternal
berguna untuk mengubah perilaku. Dalam beberapa situasi imbalan atau hadiah
dapat melemahkan pembelajaran.
Pergeseran
Developmental dalam Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Penurunan motivasi
intrinsik terbesar dan peningkatan motivasi ekstrinsik terbesar terjadi antara “grade enam dan tujuh” (Harter,
1981).
Proses kognitif lainnya
1. Atribusi
Usaha
memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang termotivasi untuk menemukan
sebab dasar. Atribusi adalah sebab yang dianggap menimbulkan hasil. Bernard
Weiner (1986,1992) mengidentifikasi 3 dimensi atribusi kausal:
·
Lokus,
persepsi murid tentang kesuksesan atau kegagalan sebagai akibat dari faktor
internal dan eksternal yang mempengaruhi harga diri murid
·
Stabilitas,
persepsi murid mengenai kemampuan yang dapat mempengaruhi kesuksesannya
·
Daya kontrol,
hubungan sejumlah emosional seperti kemarahan, rasa bersalah, rasa kasihan, dan
malu (Graham & Weiner, 1996).
2. Motivasi Untuk Menguasai
Anak
dengan orientasi menguasai akan fokus pada tugas ketimbang kemampuan mereka,
punya sikap positif. Sedangkan anak dengan orientasi tak berdaya fokus pada
ketidakmampuan personal mereka dan sering mengaitkan ketidakmampuan mereka
dengan kesulitan mereka.
3. Self-Efficacy
Menurut
Bandura (1997,2000,2001), self-efficacy adalah keyakinan bahwa “AKU BISA”,
ketidakberdayaan adalah “AKU TIDAK BISA” (Stipek,2002; Maddux, 2002).
Kesemasan
(Anxiety)
Perasaan takut dan
gundah yang cenderung tidak menyenangkan. Beberapa anak memiliki kecemasan
tingkat tinggi lantaran orang tua membebankan standar prestasi yang tidak
realistis pada anak mereka.
Murid
Berpretasi Rendah & Sulit Didekati
a.
Murid tak bersemangat
Mencakup
:
·
Murid berprestasi rendah dengan
ekspektasi kesuksesan yang rendah
Mereka bisa mencapai tujuan dan
menghadapi tantangan yang telah Anda tentukan untuk mereka demi mecapai sukses.
·
Murid dengan Sindrom Kegagalan
Murid yang memiliki ekspektasi rendah
untuk meraih kesuksesan dan menyerah saat menghadapi kesulitan awal.
·
Murid yang termotivasi untuk melindungi
harga dirinya dengan menghindari kegagalan
Strategi melindungi harga diri dan
menghindari kegagalan (Covington & Teel, 1996):
Ø NONPERFORMANCE
: tidak mau mencoba
Ø BERPURA-PURA
: tampak berpartisipasi, tetapi ia melakukannya demi menghindari hukuman, bukan
untuk sukses
Ø MENUNDA-NUNDA
: murid menunda belajar menjelang ujian dapat menghubungkan kegagalan mereka
pada menejemen waktu yang buruk
Ø MENENTUKAN
TUJUAN TAK TERJANGKAU : menetapkan tujuan tinggi sehingga kesuksesan tampak
mustahil
Ø “KAKI
KAYU AKADEMIK” : murid mengakui kelemahanpersonal agar kelemahan lain tidak
diketahui. Misal, murid mengaitkan hasil buruk ujian dengan kecemasan yang
dialaminya. Gagal karena cemas tak seburuk gagal karena tak mampu.
b.
Murid tak tertarik atau teralineasi (
Terasing)
Brophy
(1998) percaya bahwa problem motivasi paling sulit adalah murid yang apatis,
tidak tertarik belajar, atau teralineasi atau menjauhkan diri dari pembelajaran
sekolah.
Komentar
Posting Komentar