Langsung ke konten utama

Resume 3 "Motivasi, Pengajaran, dan Pembelajaran"



MOTIVASI, PENGAJARAN, DAN PEMBELAJARAN

Motivasi ialah proses memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku.

Perspektif Motivasi:

1.      BEHAVIORAL
Menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif ialah stimulus positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. 

2.      HUMANISTIS
Menekan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan dengan “hierarki kebutuhan” oleh Abraham Maslow, dimana terdapat: Fisiologis ( rasa lapar, haus, tidur); Keamanan (bertahan hidup); Cinta dan rasa memiliki (kasih sayang dan perhatian dari orang lain); Harga diri; Aktualisasi diri (realisasi potensi diri).

3.      KOGNITIF
Pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Perspektif ini juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan (Schunk & Ertmer,2000; Zimmerman & Schunk,2001). Motivasi kompetensi adalah orang termotivasi menghadapi lingkungan secara efektif, menguasai dunia, dan memproses informasi secara efisien.

4.      SOSIAL
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman dan membutuhkan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihan hubungan personal yang akrab. Murid sekolah yang punya hubungan yang suportif memiliki sikap akademik yang positif pula dan senang bersekolah (Baker,1999).

MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU
a.       Motivasi Intrinsik
Melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain yang dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapat nilai yang baik.
Ada 2 jenis motivasi intrinsik:
·         Determinasi diri dan pilihan personal
Murid percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kesuksesan atau imbalan eksternal
·         Pengalaman optimal
Berupa perasaan senang dan bahagia yang besar. Csikszentmihalyi menemukan bahwa pengalaman optimal itu terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Adapun:
Flow : murid ditantang dan menanggapi diri punya keahlian tinggi
Kejemuan : keahlian murid tinggi tapi aktivitas yang dihadapi tidak menantang
Apati : level tantangan dan keahlian rendah
Kecemasan : tugas sulit dan tidak bisa menanganinya
b.      Motivasi Ekstrinsik
Melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri. Misalnya, murid mungkin belajar mengahdapi ujian karena dia senang dengan mata pelajaran itu.

Imbalan Ekstrinsik dan Intrinsik
Imbalan eksternal berguna untuk mengubah perilaku. Dalam beberapa situasi imbalan atau hadiah dapat melemahkan pembelajaran. 

Pergeseran Developmental dalam Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Penurunan motivasi intrinsik terbesar dan peningkatan motivasi ekstrinsik terbesar terjadi antara “grade enam dan tujuh” (Harter, 1981). 

Proses kognitif lainnya
1.      Atribusi
Usaha memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang termotivasi untuk menemukan sebab dasar. Atribusi adalah sebab yang dianggap menimbulkan hasil. Bernard Weiner (1986,1992) mengidentifikasi 3 dimensi atribusi kausal:
·         Lokus, persepsi murid tentang kesuksesan atau kegagalan sebagai akibat dari faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi harga diri murid
·         Stabilitas, persepsi murid mengenai kemampuan yang dapat mempengaruhi kesuksesannya
·         Daya kontrol, hubungan sejumlah emosional seperti kemarahan, rasa bersalah, rasa kasihan, dan malu (Graham & Weiner, 1996).
2.      Motivasi Untuk Menguasai
Anak dengan orientasi menguasai akan fokus pada tugas ketimbang kemampuan mereka, punya sikap positif. Sedangkan anak dengan orientasi tak berdaya fokus pada ketidakmampuan personal mereka dan sering mengaitkan ketidakmampuan mereka dengan kesulitan mereka.
3.      Self-Efficacy
Menurut Bandura (1997,2000,2001), self-efficacy adalah keyakinan bahwa “AKU BISA”, ketidakberdayaan adalah “AKU TIDAK BISA” (Stipek,2002; Maddux, 2002).

Kesemasan (Anxiety)
Perasaan takut dan gundah yang cenderung tidak menyenangkan. Beberapa anak memiliki kecemasan tingkat tinggi lantaran orang tua membebankan standar prestasi yang tidak realistis pada anak mereka.
Murid Berpretasi Rendah & Sulit Didekati
a.       Murid tak bersemangat
Mencakup :
·         Murid berprestasi rendah dengan ekspektasi kesuksesan yang rendah
Mereka bisa mencapai tujuan dan menghadapi tantangan yang telah Anda tentukan untuk mereka demi mecapai sukses.
·         Murid dengan Sindrom Kegagalan
Murid yang memiliki ekspektasi rendah untuk meraih kesuksesan dan menyerah saat menghadapi kesulitan awal.
·         Murid yang termotivasi untuk melindungi harga dirinya dengan menghindari kegagalan
Strategi melindungi harga diri dan menghindari kegagalan (Covington & Teel, 1996):
Ø  NONPERFORMANCE : tidak mau mencoba
Ø  BERPURA-PURA : tampak berpartisipasi, tetapi ia melakukannya demi menghindari hukuman, bukan untuk sukses
Ø  MENUNDA-NUNDA : murid menunda belajar menjelang ujian dapat menghubungkan kegagalan mereka pada menejemen waktu yang buruk
Ø  MENENTUKAN TUJUAN TAK TERJANGKAU : menetapkan tujuan tinggi sehingga kesuksesan tampak mustahil
Ø  “KAKI KAYU AKADEMIK” : murid mengakui kelemahanpersonal agar kelemahan lain tidak diketahui. Misal, murid mengaitkan hasil buruk ujian dengan kecemasan yang dialaminya. Gagal karena cemas tak seburuk gagal karena tak mampu.
b.      Murid tak tertarik atau teralineasi ( Terasing)
Brophy (1998) percaya bahwa problem motivasi paling sulit adalah murid yang apatis, tidak tertarik belajar, atau teralineasi atau menjauhkan diri dari pembelajaran sekolah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikologi Pendidikan

Learning atau belajar merupakan proses perubahan perilaku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Tidak semua yang kita tahu diperoleh melalui belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan yang ada sejak lahir seperti menelan makanan, berteriak atau berkedip saat silau. Terdapat tiga macam pendekatan dalam belajar yaitu: 1. Classical Conditioning adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar mengaitkan atau mengasosiasikan suatu stimuli. Dalam pengondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus tidak terkondisi yang akan menghasilkan respon terkondisi. Contoh :  a. Awalnya ketika saya mendengar bunyi "tok-tok" di depan rumah, saya tidak merespon. Kemudian setelah berulang-ulang, suara "tok-tok" ternyata selalu ditandai dengan kedatangan tukang miesop, maka setiap mendengar suara "tok-tok" saya sudah berpikir bahwa itu tukang miesop. b. Seorang anak ingin bangun pukul 4 pagi karena ingin belajar, sehingga ia...

"Perbedaan Andragogi & Pedagogi"

Aspek Fundamental Andragogi : teori belajar untuk kebutuhan khusus orang dewasa yang cenderung lebih mandiri dan tanggung jawab. Pedagogi : teori belajar untuk kebutuhan anak-anak Malcolms S. Knowles (1970) membedakan pedagogi dan andragogi sebagai berikut: ANDRAGOGI PEDAGOGI Pembelajar disebut “pelajar” Pembelajar disebut “siswa” Gaya belajar independen Gaya belajar dependen Tujuan fleksibel Tujuan ditentukan sebelumnya Peserta didik memiliki pengalaman untuk berkontribusi Siswa kurang informasi Metode pelatihan aktif Metode pelatihan pasif, seperti metode kuliah/ceramah Pembelajaran mempengaruhi waktu dan kecepatan Guru mengontrol waktu dan kecepatan Keterlibatan peserta didik sangat penting Peserta berkontribusi sedikit atas pengalamannya Belajar berpusat pada masalah kehidupan nyata ...

"Pelajar Tidak Biasa"

Hai guys! udah lama aku ga ngepost yak. Hm bentar lagi aku uas, so ini dia nih resume dari materi yang udah aku pelajari selama semester 2 tepatnya after UTS kemaren, di baca ya guys, gaada dampak negatif dari membaca kok, yang ada ilmu kalian bakalan nambah:)  Pelajar yang tidak biasa adalah anak yang memiliki ketidakmampuan dalam belajar namun tergolong anak yang cerdas. Ketidakmampuan : 1.        Disability : keterbatasab fungsi yang membatasi kemampuan seseorang 2.        Handicap : kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang menderita ketidakmampuan Pengelompokkan ketidakmampuan : 1.        Gangguan Indera ·          Gangguan penglihatan : hal terpenting dalam mengajar anak gangguan ini yaitu menentukan modalitas seperti sentuhan atau pendengaran (Bowe, 2000). ·          Gangguan pend...